kalamullah..
Tuesday, March 22, 2011
Thursday, March 17, 2011
Pengantar Falsafah Islam
Perbahasan tentang falsafah Islam biasanya berkisar kepada masalah asas dalam epistemologi iaitu sumber wahyu dan akal. Sejak dari dulu hingga sekarang persoalan-persoalan tentang dua sumber inilah yang terus menerus diperdebatkan sehingga timbul beberapa aliran dan mazhab dalam pemikiran Islam.
Sayid Jamaluddin Al-Afghani: Pelopor Islah & Tajdid
Sayid Jamaluddin al-Afghani (1838[1]-1897) merupakan seorang aktivis politik dan nasionalis Islam di Afghanistan, Iran, Mesirdan Empayar Uthmaniyyah semasa kurun ke-19. Beliau merupakan salah seorang pelopor pemodenan Islam.
Sebagai modernis Islam pertama, yang pengaruhnya dirasakan di beberapa negara, Afghani memicu kecenderungan menolak tradisionalisme murni dan westernisme murni. Meski Afghani di kemudian hari --dan sejak meninggalnya-- dikaitkan khususnya dengan pan-Islam, tulisan pan-Islamnya hanya menjadi sebahagian dari dasawarsa penting 1880-an. Dalam hidupnya dia mempromosikan berbagai sudut pandang yang sering bertentangan. Dan pikirannya juga memiliki afiniti dengan berbagai kecenderungan di dunia Muslim. Ini meliputi liberalisme Islam yang diserukan khususnya oleh Muhammad 'Abduh, orang Mesir yang menjadi muridnya.
Tuesday, March 1, 2011
INTIPATI PEMIKIRAN SALAFI
Yang dimaksud dengan “Pemikiran Salafi” di sini ialah kerangka berfikir (manhaj fikri) yang tercermin dalam pemahaman generasi terbaik dari umat ini iaitu para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan setia, dengan mempedomani hidayah al-Qur’an dan Nabi SAW.
Kriteria/ Intipati Manhaj Salafi yang Benar
Iaitu suatu manhaj yang secara global berpijak pada prinsip berikut :
1- Berpegang pada nas-nas yang ma'sum (suci), bukan kepada pendapat para ahli atau tokoh.
2- Mengembalikan masalah-masalah “mutashabihat” (yang kurang jelas) kepada masalah “muhkamat” (yang pasti dan tegas) serta mengembalikan masalah yang zanni kepada yang qat’i.
3- Memahami kes-kes furu’ (kecil) dan juz’i (tidak prinsip) dalam kerangka prinsip dan masalah fundamental.
4- Menyeru “Ijtihad” dan pembaruan. Memerangi “Taqlid” dan kebekuan.
5- Mengajak untuk beriltizam (memegang teguh) akhlak Islamiah bukannya meniru trend.
6- Dalam masalah fiqh, berorientasi pada “kemudahan” bukan “mempersulit”.
7- Dalam hal bimbingan dan penyuluhan, lebih memberikan motivasi bukan menakut-nakuti.
8- Dalam bidang aqidah, lebih menekankan penanaman keyakinan, bukan dengan perdebatan.
9- Dalam masalah Ibadah, lebih mementingkan jiwa ibadah, bukan formalisnya.
10- Menekankan sikap “ittiba’” (mengikuti) dalam masalah agama serta menanamkan semangat “ikhtira’” (kreatif dan berdaya cipta) dalam masalah kehidupan dunia.
Inilah inti “manhaj salafi”. Dengan manhaj inilah dibinanya generasi Islam terbaik, dari segi teori dan praktik sehingga mereka mendapat pujian langsung dari Allah di dalam al-Qur’an dan Hadith-Hadith Nabi SAW serta dibuktikan kebenarannya oleh sejarah. Merekalah yang telah berhasil memindahkan al-Qur’an kepada generasi sesudah mereka menghafal Sunnah, mempelopori berbagai kemenangan (futuh), menyebarluaskan keadilan dan keluhuran (ihsan). Mendirikan “negara ilmu dan Iman”. bahkan mereka juga membangun peradaban rabbani yang manusiawi, bermoral dan mendunia. Sampai sekarang masih tercatat dalam sejarah.
“Salafiah” Dirosak oleh Pihak yang Pro dan Kontra
Istilah “Salafiah” telah dirosak rupanya yang sebenar oleh kalangan yang pro dan kontra terhadap “salafiah”. Orang-orang yang pro-salafiah – baik yang sementara ini dianggap orang dan menamakan dirinya demikian, atau yang sebagian besar mereka benar-benar salafiyah – telah membatasinya dalam skop formal dan kontroversi saja, seperti masalah-masalah tertentu dalam Ilmu Kalam, Ilmu Fiqh atau Ilmu Tasawuf. Mereka sangat keras dan garang terhadap orang lain yang berbeza pendapat dengan mereka dalam masalah-masalah kecil dan tidak berprinsip ini. Sehingga memberi kesan bahwa manhaj Salaf adalah metod “debat” dan “polemik”, bukan manhaj konstruktif dan praktis. Dan juga memberi impak bahawa yang dimaksud dengan “Salafiah” ialah mempersoalkan yang kecil-kecil dengan mengorbankan hal-hal yang asas. Membahaskan khilafiah dengan mengabaikan masalah-masalah yang disepakati. Mementingkan formal dan kulit dengan melupakan inti dan jiwa.
Sedangkan pihak yang kontra-salafiah mengatakan fahaman ini “terbelakang”, sentiasa menoleh ke belakang, tidak pernah memandang ke depan. Fahaman Salafiah, menurut mereka, tidak menaruh perhatian terhadap masa kini dan masa depan. Sangat fanatik terhadap pendapat sendiri, tidak mendengar suara orang lain. Salafiah dikenali dengan anti pembaharuan, mematikan kreativiti dan inovasi. Serta tidak mengenal modenisasi dan pertengahan.
Sebenarnya tuduhan-tuduhan ini merosak wajah sebenar salafiah yang hakiki dan pendokong-pendokongnya yang asli. Tokoh yang paling menonjol dalam menyebarkan “salafiah” dan membelanya pada masa lampau ialah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beserta muridnya Imam Ibnul-Qoyyim. Mereka inilah orang yang berjuang mewakili gerakan”pembaruan Islam” pada masa mereka. Kerana pembaharuan yang mereka lakukan benar-benar melengakapi seluruh disiplin ilmu Islam.
Mereka telah menumpas faham “taqlid”, “fanatisme madzhab” fiqh dan ilmu kalam yang sempat mendominasi dan mengekang pemikiran Islam selama beberapa abad. Namun, di samping kesungguhan mereka dalam membasmi “ashobiyah madzhabiyah” ini, mereka tetap menghargai para Imam Madzhab dan memberikan hak-hak mereka untuk dihormati. Hal itu jelas terlihat dalam risalah “Raf’l – malaam ‘anil – A’immatil A’lam” karya Ibnu Taimiyah.
Di samping itu, terdapat juga teguran mereka terhadap “tasawuf” karena penyimpangan-penyimpangan pemikiran dan aqidah yang menyebar di dalamnya. Khususnya di tangan pendiri madzhab “Al-Hulul Wal-Ittihad” (penyatuan). Dan penyelewengan perilaku yang dilakukan para orang jahil dan yang menyalahgunakan “tasawuf” untuk kepentingan pribadinya. Namun, mereka menyedari tasawuf yang benar (shahih). Mereka memuji para pemuka tasawuf yang ikhlas dan robbani. Bahkan dalam bidang ini, mereka meninggalkan warisan yang sangat berharga, yang tertanam dalam dua jilid dari “Majmu’ Fatawa” karya besar Imam Ibnu Taimiyah. Demikian pula dalam beberapa karangan Ibnu-Qoyyim. Yang termasyhur ialah “Madarijus Salikin syarah Manazil As-Sairin ila Maqomaat Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in”, dalam tiga jilid.
Mengikut Manhaj Salaf Bukan Hanya Sekadar Ucapan
Yang perlu ditekankan di sini, mengikut manhaj salaf, tidaklah bererti sekadar ucapan-ucapan mereka dalam masalah-masalah kecil tertentu. Adalah suatu hal yang mungkin terjadi, kita mengambil pendapat-pendapat salaf dalam masalah yang juz’i (kecil), namun pada hakikatnya kita meninggalkan manhaj mereka yang universal dan seimbang.
Sebagaimana juga mungkin, kita memegang teguh manhaj mereka yang kulli (universal), jiwa dan tujuan-tujuannya, walaupun kita menyalahi sebahagian pendapat dan ijtihad mereka.
Inilah sikap yang sepatutnya secara peribadi terhadap kedua Imam tersebut, yakni Imam Ibnu Taimiyah dan Ibnul-Qoyyim. Kita sangat menghargai manhaj mereka secara global dan memahaminya. Namun, ini tidak bererti bahawa kita harus mengambil semua pendapat mereka. Jika kita melakukan hal itu bererti kita telah terperangkap dalam “taqlid” yang baru. Dan bererti telah melanggar manhaj yang mereka pegang dan perjuangkan sehingga mereka disiksa karananya. Yaitu manhaj “nalar” dan “mengikuti dalil”. Melihat setiap pendapat secara objektif, bukan memandang orangnya. Apa ertinya kita protes orang lain mengikut (taqlid) Imam Abu Hanifah atau Imam Malik, jika kita sendiri taqlid kepada Ibnu Taimiyah atau Ibnul-Qoyyim.
Juga termasuk menzalimi kedua Imam tersebut, hanya menyebutkan sisi ilmiah dan pemikiran dari hidup mereka dan mengabaikan segi-segi lain yang tidak penting dengan sisi pertama. Sering terlupakan sisi Robbani dari kehidupan Ibnu Taimiyah yang pernah menuturkan kata-kata: “Aku melewati hari-hari dalam hidupku di mana suara hatiku berkata, kalaulah yang dinikmati ahli syurga itu seperti apa yang kurasakan, pastilah mereka dalam kehidupan yang bahagia”.
Di dalam penjara dan penyiksaannya, beliau pernah mengatakan: “Apa yang hendak dilakukan musuh terhadapku? Kehidupan di dalam penjara bagiku merupakan khalwat (mengasingkan diri dari kebisingan dunia), pengasingan bagiku merupakan rekreasi, dan jika aku dibunuh adalah mati syahid”.
Beliau adalah seorang insan rabbani yang amat berperasaan. Demikian pula muridnya Ibnul-Qoyyim. Ini dapat dirasakan oleh semua orang yang membaca kitab-kitabnya dengan hati yang terbuka.
Namun, seringkali kita melupakan, sisi “dakwah” dan “jihad” dalam kehidupan dua Imam tersebut. Imam Ibnu Taimiyah terlibat langsung dalam beberapa medan pertempuran dan sebagai penggerak. Kehidupan dua tokoh itu penuh diwarnai perjuangan dalam memperbaharui Islam. Disumbat ke dalam penjara beberapa kali. Akhirnya Syaikhul Islam mengakhiri hidupnya di dalam penjara, pada tahun 728 H. Inilah makna “Salafiah” yang sebenarnya.
Bila kita alihkan pandangan ke zaman sekarang, kita temukan tokoh yang paling menonjol menyebarkan “salafiah”, dan paling gigih mempertahankannya melalui artikel, kitab karangan dan majalah pembawa misi “salafiah”, ialah Imam Muhammad Rasyid Ridha. Penulis majalah “Al-Manar’ yang selama kurun waktu tiga puluh tahun lebih membawa “bendera” salafiah ini, menulis Tafsir “Al-Manar” dan dimuat dalam majalah yang sama, yang telah menyebar ke seluruh pelosok dunia.
Rasyid Ridha adalah seorang mujaddid Islam pada masanya. Barangsiapa membaca “tafsir”nya, sperti : “Al-Wahyu Al-Muhammadi”, “Yusrul-Islam”, “Nida’ Lil-Jins Al-Lathief”, “Al-Khilafah”, “Muhawarat Al-Mushlih wal-Muqollid” dan sejumlah kitab dan artikelnya, akan melihat bahawa pemikiran tokoh yang satu ini benar-benar merupakan “Manar” (menara) yang memberi petunjuk dalam perjalanan Islam di zaman moden. Kehidupan amalinya merupakan bukti bagi pemikiran “salafiah”nya.
Beliaulah yang merumuskan sebuah kaedah yang terkenal dan diteruskan oleh Imam Hasan Al-Banna. Yaitu kaedah :
“Mari kita saling bekerja sama dalam hal-hal yang kita sepakati. Dan mari kita saling memaafkan dalam masalah-masalah yang kita berbeza pendapat.”
Betapa indahnya kaedah ini jika difahami dan diterapkan oleh mereka yang mengaku dirinya sebagai “pengikut Salaf”.
Sumber: Aulawiyat al-Harakah al-Islamiyah fi al-Marhalah al-Qadimah-Dr.Yusuf Al Qordhowi
Wednesday, February 9, 2011
RINDU RASUL
Assalamu'alaikum warahmatullah. ..
Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Mengasihani Ya Allah, lancar jari ini menaipkan sebuah pengalaman yang amat berharga dari seorang insan yang di pilih Allah untuk berjumpa Nabi SallaLahu'alaihiwas allam melalui mimpi hari Khamis, 16 Rejab 1427 H bersamaan 10 August, 2006.
Nama yang dipilih oleh ayah beliau Syamimi yang bermaksud 'kesayanganku', gelar Nabi pada puteri kesayangan Baginda, Fatimah. Ketika khilaf memilih nama itu, ayah beliau mengharapkan mudah-mudahan suatu hari nanti anaknya akan menjadi salah seorang mutiara kesayangan Rasulullah SallaLahu'alaihiwas allam. AlhamduliLlah, doanya makbul selepas 23 tahun kelahiran anak sulungnya daripada 8 adik-beradik.
AlhamduliLlah, Al-Quran 30 juzuk terpelihara kemas di dalam hatinya. Beliau menghabiskan masa 3 tahun untuk habis menghafal 30 juzuk KalamuLlah ketika di negeri kelahirannya. Beliau hafal sendiri untuk memenuhi harapan ibu ayah beliau yang mengharapkan ada di kalangan anak mereka menjadi seorang hafiz atau hafizah. Sebagai anak sulung, beliau mengambil tanggungjawab ini untuk menjadi contoh kepada adik-adik, SubhanaLlah. Setiap hari beliau hafal 2 mukasurat Al-Quran dan tasmi' dengan ustaz di sebelah rumahnya di sana . Sekarang beliau pelajar tahun 4 jurusan Undang-Undang Syariah di universiti ana InsyaAllah.
Akak ini memang di uji dengan sakit yang tak tau apa punca sejak lebih setahun yang lalu. Sakitnya rasa seperti di tikam-tikam dengan pisau di bahagian belakang tubuhnya, tambahan pula kaki yang sudah sakit di bahagian lutut sejak 8 tahun lalu yang tidak pernah sembuh. Pernah satu ketika, selepas makan, beliau muntah bersama segumpal rambut dari kerongkongnya. Penderitaannya hanya Allah dan dia sendiri yang tau. Dah lama dia tak daya ke kelas sebab sakitnya membuatkan dia tak dapat berdiri atau berjalan. Hilang selera makannya hingga susut badannya hampir 13 kg. Beliau hanya menggagahkan diri untuk pergi berwudhu' 2 hingga 3 kali sehari. Wudhu' itu di jaga sebaik mungkin untuk ibadah sepanjang hari.
Hari-hari yang di laluinya beliau penuhi dengan membaca Al-Quran dan qiamullail sebagai pendinding daripada gangguan yang terus-terusan menyakitinya. Diceritakan makhluk-makhluk itu akan mengganggunya terutama waktu sebelum subuh, waktu zuhur dan waktu maghrib. Beliau dah banyak berubat di merata tempat, di negeri kelahirannya, berjumpa doktor-doktor pakar, dengan ulama' yang faqih dalam ilmu perubatan Islam sendiri dan akhir sekali dengan seorang lecturer di sini tapi beliau hanya mampu bertahan. Ustaz pesan, setiap kali beliau sakit, banyakkan baca Surah Al-Baqarah.
Pagi khamis itu, beliau berniat untuk hadir kuliyah sebab dah lama tak mampu ke kelas. Beliau bangun kira-kira jam 4.30 pagi untuk solat. Berbekalkan sedikit kekuatan yang di gagahkan, beliau ke bilik air untuk berwudhu' dengan memapah dinding dan apa yang mampu membantu beliau berdiri. Habis berwudhu', beliau jatuh tersungkur, rasa seperti ada yang menolak keras dari belakang. Masa itu beliau dah tak mampu berdiri, justeru beliau merangkak ke bilik. Sampai saja di bilik, beliau ketuk pintu dan rebah di bahagian depan bilik. Waktu itu, disebabkan sakit yang mungkin dah tak tanggung, dengan spontan beliau niatkan, "Ya Allah, kiranya mati itu baik untukku, aku redha, tapi kiranya Engkau ingin aku terus hidup, aku ingin dengar kata-kata semangat drpd RasuluLlah SallaLlahu'alaihiwa sallam sendiri".
Kemudian beliau pengsan. Sahabat-sahabat sebilik mengangkat beliau ke dalam bilik dan di baringkan di sana . Waktu tu, sahabat-sahabat dah forward message pada kawan-kawan yang lain agar bacakan surah Yasin sebab beliau dah nampak nazak. Semua dah sedia dengan nombor-nombor ahli keluarga beliau untuk di hubungi kiranya apa-apa berlaku dengan izin Allah. Kira-kira jam 11 pagi, beliau tidur dengan tenang dalam waktu qoilulah, dalam tidur beliau, beliau sedang terbaring dalam keadaan memakai telekung dengan tangannya di qiam seperti dalam solat di tempat asing yang sangat cantik. Beliau terbaring di sebelah mimbar dan kelihatan banyak tiang di sekitarnya.
Tiba-tiba datang seorang Hamba Allah dengan wajah yang bercahaya dari arah depan dan berdiri hampir sekali, kira-kira 2 meter dari beliau. Wajahnya SubhanaLlah, indah sekali, tak dapat nak di gambarkan. Beliau tertanya-tanya, siapa orang ni, cantik sekali kejadiannya dan hati beliau rasa sangat tenang dengan hanya melihat wajahnya. Di rasakan seluruh kesengsaraan yg di tanggung selama ini lenyap begitu saja. Kemudian, HambaAllah itu mengatakan, "Assalamu'alaikum, Ana RasuluLlah". SubhanaLlah, baginda Nabi rupanya. Nabi memakai jubah putih dan kain serban Nabi berwarna hijau di atas bahu baginda. Beliau nampak dengan jelas mata Baginda Nabi, janggut Baginda, rambut Baginda, kain serban di atas bahu Baginda dan tubuh Baginda. Kemudian Nabi katakan "Enti fil masjidi", -'sekarang enti (kamu) berada di masjidku, Masjid Nabawi'-. Allahuakbar.
Kemudian Baginda Nabi SallaLahu'alaihiwas allam berkata: QalAllahuta' ala; "InnaAllahama' assobirin" , - sungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar'. Ketika mendengar suara Nabi mengalunkan KalamuLlah, terasa bergema suara merdu Nabi di seluruh 'alam. SememangNya Baginda sebaik-baik kejadian dan di ciptakan dengan penuh kesempurnaan. Nabi katakan (fi lughatul 'arabiyah, tp kami terjemahkan) , "Ya Syamimi, dengan berkat kesabaran enti, dengan sakit yang enti tanggung selama ini, dan dengan berkat Al-Quran yang enti pelihara di dalam hati enti, maka Allah bukakan hijab untuk enti nampak ana". Ketika Nabi sebut Ya Syamimi, terlintas di hatinya 'Ya Allah, Baginda kenal ummat Baginda'. Ya RasuluLlah.. . Waktu tu, di rasakan baiknya Allah, memberikan nikmat yang begitu besar buat dirinya.
Kemudian Nabi katakan, "Sampaikan salamku buat sahabat-sahabat seperjuangan Islam, insyaAllah, kita semua akan berjumpa nanti". Lepas tu Nabi kita lafazkan, "Ummati.., ummati.., ummati...", dan beliau nampak Nabi menangis dan beberapa titisan airmata Nabi yang suci mengalir untuk ummat Baginda. Kemudian Baginda Nabi pergi. Beliau merintih, "Jangan pergi Ya RasuluLlah", tapi Baginda tetap pergi. Subhanallah, walaupun kita tak pernah bersua dengan Nabi kita yang mulia, Baginda kenal kita dan sentiasa ingat akan ummat Baginda. Beliau katakan tak pasti, apakah baginda menangis kerana rindu kepada ummat baginda, atau mungkin saja baginda sedih dengan ummat akhir zaman ini atau...tak tahulah, waLlahua'lam. ..
Sedar daripada tidur yang amat indah pengisiannya, beliau di kelilingi oleh kawan-kawan yang terdengar rintihan beliau dalam tidurnya "Jgn pergi Ya RasuluLlah.. .". kemudian beliau pun menceritakan kepada para sahabat tentang mimpinya sekaligus menyampaikan salam RasuluLlah buat ummat Baginda, salam dari Nabi sallaLahu'alaihiwas allam. Semua menangis lantaran rindu pada Nabi. Rasa malu pada Nabi kerana kita jarang-jarang ingat pada Baginda sedang kita amat terhutang budi pada baginda Nabi. Lebih-lebih lagi kita sedar bahawa syafaat Baginda yang akan kita kejar di akhirat kelak.
Ya Allah, waktu tu, tiada kata yang lebih tinggi daripada kalimah AlhamduliLlah untuk di rafa'kan pada Allah atas ni'mat yang begitu besar yang Allah berikan pada dirinya. Rasa tak layak dirinya menerima anugerah dengan ujian yang hanya sedikit berbanding insan-insan yang lebih berat di uji oleh Allah. Kiranya ada kalimah pujian yang lebih tinggi dari Hamdalah, pasti akan beliau sebutkan buat Allah Yang Maha Kaya. Semuanya terangkum dalam Rahmat-Nya yang melimpah ruah. Ketika itu rasa sakit masih menular di tubuhnya Cuma kali ini dia bertekad tidak akan menangis lagi untuk kesakitan ini.
Kemudian usai solat Zuhur, rasa sakit yang beliau tanggung makin hebat. Tak pernah beliau merasakan sakit yang sebegitu rupa. Terasa panas seluruh badan dan seluruh tubuhnya rasa di tikam pada setiap penjuru tubuhnya. Kalau dulu, beliau akan menangis dalam menghadapi kesakitan, pada waktu itu beliau pujuk diri untuk tidak menangis. 'Apa sangatlah sakit yang aku tanggung ini berbanding nikmat yang Allah dah bagi untuk melihat Baginda Nabi SallaLlahu'alaihiwa sallam'.
Kemudian beliau tidur dan terus beliau rasakan berada di tempat tinggi, tempat yang biasa hadir sepanjang beliau menerima gangguan. Beliau katakan "Ya Allah, apa lagi yang nak Engkau bagi buat hambamu yang hina ni, rasa malu sangat dengan-Mu Ya Allah...". kemudian dengan izin Allah, datang empat orang yang berpakaian serba hijau. Salah seorang daripadanya mengatakan, "Assalamu'alaikum Ya Syamimi, RasuluLlah SallaLahu'alaihiwas sallam sampaikan salam buatmu. Kami utusan RasuluLlah SAW. "Nahnu khulafa' ar-rasyidin" . Ana Abu Bakr, ini Ummar Al-Khattab, Uthman bin 'affan dan Ali". SubhanaLlah, Saidina Abu Bakr memperkenal dirinya dan ketiga-tiga sahabatnya yang mulia.
Beliau nampak, Saidina Abu Bakr, amat lembut perwatakannya, Saidina Ummar dengan wajah ketegasan, Saidina Uthman memang cantik sekali dan Saidina 'Ali yang agak kecil orangnya.
Beliau nampak, Saidina Abu Bakr, amat lembut perwatakannya, Saidina Ummar dengan wajah ketegasan, Saidina Uthman memang cantik sekali dan Saidina 'Ali yang agak kecil orangnya.
Para Sahabat mengatakan "Kami di utuskan oleh baginda Nabi untuk membantu enti.". kemudian keempat-empat sahabat nabi membacakan ayat 102 drpd surah Al-Baqarah yang bermaksud:
" Dan mereka mengikuti apa yang di baca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman. Sulaiman itu tidak kafir tetapi syaitan-syaitan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir pada manusia dan apa yg diturunkan pada 2 malaikat di negeri Babylon iaitu Harut dan Marut. Padahal keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan ' sesungguhnya kami hanyalah cubaan (bagimu) sebab itu janganlah kafir'. Maka mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dengan isterinya. Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dgn sihirnya kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan, dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Dan sungguh, mereka sudah tahu, barang siapa membeli (menggunakan sihir) itu, nescaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat. Dan sungguh, sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dgn sihir, sekiranya mereka tahu".
Selesai membaca ayat itu, para sahabat Nabi menghembus pada makhluk-makhluk yang sedang mengganggu beliau dan mereka semua hancur terbakar. SubhanaLlah, waktu itu terasa seolah-olah tubuhnya yang sakit dahulu di tukarkan Allah dengan tubuh yang baru. Hilang segala kesakitan yang dah lebih setahun di tanggung beliau dengan sabar. Kemudian Saidina Abu Bakr mengatakan, "Inilah ganjaran besar dari Allah buat orang-orang yang sabar". Kemudian, para sahabat Nabi yang mulia pun pergi.
Selesai mimpi indah yang kedua ini, beliau bangun dari tidur dan terus bangun duduk. Kawan-kawan sebilik pelik, kenapa beliau dapat bangun untuk duduk dengan mudah . Kemudian sahabat-sahabat sebilik menyuruh beliau bangun berdiri dan AlhamduliLlah dengan mudah beliau bangun berdiri dan berjalan di sekitar bilik. "Ya Allah, penyakit ana dah sembuh". Semua sahabat yang ada di situ bergembira dan menangis. Kemudian beliau segera ke bilik air untuk berwudhu'. Dengan tubuh yang 'baru', beliau sujud syukur pada Allah Subhanahuata' ala. "Ya Allah, kiranya di beri tempoh sujud 100 tahun pun belum dapat menjadi hamba-mu yg bersyukur atas ni'mat yang Engkau berikan".
Beliau katakan pada kami, "Adik-adik, wajarlah para sahabat Nabi yang mulia sanggup mati demi mempertahankan Nabi. Akak yang di beri rezeki melihat Nabi tak sampai pun 5 minit dah rasa tak sanggup berpisah dengan Nabi. Kalau boleh, nak duduk je di bilik untuk beribadah pada Allah dan mengenang wajah Nabi yg mulia. Tp menyedari banyak lagi taklifan dan tanggungjawab kita di atas muka bumi Allah ni, maka hidup mesti di teruskan. Sekarang ni hati akak tenang sangat.. Kalau boleh, nak je akak pinjamkan hati ni walau hanya sesaat agar adik-adik dapat merasakan betapa beningnya hati ini. Tapi itu tak mungkin kan , mungkin ini bahagian akak, bahagian kalian? Hanya Pemiliknya Yg Maha Tahu. Akhir sekali akak ingin katakan; "tak rugi kita bersabar..."
..berderaian air mata mengalir..rindu dirimu Ya RasululLah SAW..
Sumber: emel dari sahabat..
Saturday, February 5, 2011
ujrah 1% : PTPTN
Ada yang bertanya saya berkenaan pengumuman rasmi PTPTN yang mengkhabarkan pertukaran konsep pinjaman sebelum ini yang berasaskan caj perkhidmatan (peratusan tertentu disandarkan kepada jumlah pinjaman dan baki setiap bulan) kepada konsep ujrah.
Friday, January 28, 2011
WAHAI SI MANJA.. JANGAN FIKIR BAB DAKWAH & PENGISLAHAN DIRI..
- Tarbiyyah BUKAN untuk orang yang malas.
- Dakwah BUKAN untuk orang yang takut nak bergerak dan mencabar diri.
- Tarbiyyah BUKAN untuk orang yang cepat bosan, lari, lompat-lompat, sekejap down,
sekejap up, cepat terasa.
- Tarbiyyah BUKAN bagi orang yang memilih program untuk dia ikuti yang senang dan
mudah join, yang penat, bersusah payah elak.
- BUKAN untuk orang yang mencari Tarbiyyah hanya bila terasa diuji oleh Tuhan. Kalau
tak, batang hidung pun tak Nampak.
- BUKAN bagi yang meletakkan dakwah hanya untuk mencari calon akhawat atau
ikhwah sebagai sang isteri dan suami.
- BUKAN yang join hanya untuk meminta tolong teman-teman seperjuangan bila dia
dalam kesusahan. Tapi kesenangan dan kelebihan yang dia dapat, tidak berkongsi
dengan orang lain.
- BUKAN yang cepat mengalah.
- BUKAN yang meletakkan mabit, qiamullai dan daurah dalam diari hanya selepas
ditolak dengan semua agenda dan upacara-upacara penting yang lain.
- BUKAN yang hanya pandai cakap (dan menulis) tapi amal kosong.
- BUKAN yang hanya compare kumpulan itu dan ini, yang boleh mengkritik dan menilai
persatuan itu dan ini.
- Dakwah BUKAN untuk orang yang ikut Liqa’ hanya akan disebut sebagai ahli dalam
persatuan itu dan ini.
- Dakwah BUKAN untuk orang yang tidak boleh diberikan tugasan last minute.
- Dakwah BUKAN untuk orang yang tak nak keluarkan duit, infaq ke jalan Allah.
- Dakwah BUKAN untuk orang yang tak nak sesekali tidur lewat, terpaksa berjalan jauh.
- Dakwah BUKAN bagi orang yang ada program untuk ikut terlibat, mesti naik kereta
besar dan mewah, yang air-cond dan laju. Yang tak nak naik bas, public transport dan
yang kena berpeluh-peluh.
- Tarbiyyah BUKAN untuk orang yang contact dan info dia tentang perkembangan
terkini sedangkan dia kena macam boss,hanya tunggu information.
- Dakwah BUKAN bagi mereka yang hanya nak berkawan dengan orang berduit dan
berharta, yang hidup mewah dan mengelak berkawan dengan orang yang susah,
miskin, dan pakai comot.
- Dakwah BUKANlah untuk orang yang setiap masa dan ketika, kerja nak beri alasan ini
dan itu. Penat, mengantuk, susah, banyak kerja, keluarga tak bagi keluar.
Tanpa anda (orang yang sering beralasan ini) dakwah akan terus berjalan. Islam akan tetap berjaya. Ummah akan tetap terpelihara.
Wassalam,
Asrar.
Sumber: muallim.blogspot.com
Subscribe to:
Posts (Atom)






